Jenis-jenis sensor yang paling umum diketahui

,,Pernah tidak kalian pada saat jalan-jalan ke mall pada tangga escalator yang mula-mula diam tiba-tiba bergerak setelah kita memijakkan kaki tepat diatas tangga tersebut ...?? 
pasti heran kan kalian..??kok bisa ya..?? ,itu disebabkan karena adanya sensor yang di pasang pada escalator tersebut. maka dari itu mari mengenal jenis-jenis sensor yang biasa di jumpai..

sensor


Jadi, Sensor adalah sesuatu yang digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan lingkungan fisik atau kimia. Variabel keluaran dari sensor yang diubah menjadi besaran listrik disebut Transduser.

Berikut adalah Jenis-jenis sensor

1. Sensor proximity
Sensor proximity merupakan sensor atau saklar yang dapat mendeteksi adanya target jenis logam dengan tanpa adanya kontak fisik. Biasanya sensor ini tediri dari alat elektronis solid-state yang terbungkus rapat untuk melindungi dari pengaruh getaran, cairan, kimiawi, dan korosif yang berlebihan. Sensor proximity dapat diaplikasikan pada kondisi penginderaan pada objek yang dianggap terlalu kecil atau lunak untuk menggerakkan suatu mekanis saklar.
Bandingkan dengan pengertian ini.
Proximity sensor merupakan perangkat yang mendeteksi keberadaan dan kedekatan objek baik berupa logam maupun non logam. Proximity hanya mendeteksi "keberadaan" dan tidak memberi "kuantitas" dari objek. Maksudnya, jika mendeteksi logam maka keluaran dari detektor hanya "ada" atau "tidak ada" logam. Proximity tidak memberikan informasi tentang kuantitas logam seperti jenis logam, ketebalan, jarak, suhu dll. Jadi hanya "ada atau tidak ada" logam. Juga sama untuk non logam. Proximity untuk logam biasanya dengan "inductive proximity" sedang untuk non logam dengan "capacitive proximity"
Didepan disebutkan "perangkat" karena sensor proximity sudah merupakan sirkuit yang terdiri dari beberapa komponen untuk dirangkai menjadi sebuah sistem yang bekerja sebagai proximity sensor. Bandingkan dengan sensor cahaya (misalnya) : LDR yang betul-betul stand alone/ komponen bukan suatu rangkaian elektronik.

2. Sensor magnet
Sensor Magnet adalah alat yang akan terpengaruh medan magnet dan akan memberikan perubahan kondisi pada keluaran. Seperti layaknya saklar dua kondisi (on/off) yang digerakkan oleh adanya medan magnet di sekitarnya. Biasanya sensor ini dikemas dalam bentuk kemasan yang hampa dan bebas dari debu, kelembapan, asap ataupun uap.

3. Sensor sinar
Sensor sinar terdiri dari 3 kategori. Fotovoltaic atau sel solar adalah alat sensor sinar yang mengubah energi sinar langsung menjadi energi listrik, dengan adanya penyinaran cahaya akan menyebabkan pergerakan elektron dan menghasilkan tegangan. Demikian pula dengan Fotokonduktif (fotoresistif) yang akan memberikan perubahan tahanan (resistansi) pada sel-selnya, semakin tinggi intensitas cahaya yang terima, maka akan semakin kecil pula nilai tahanannya. Sedangkan Fotolistrik adalah sensor yang berprinsip kerja berdasarkan pantulan karena perubahan posisi/jarak suatu sumber sinar (inframerah atau laser) ataupun target pemantulnya, yang terdiri dari pasangan sumber cahaya dan penerima.

4. Sensor ultrasonik
Sensor ultrasonik bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara, di mana sensor ini menghasilkan gelombang suara yang kemudian menangkapnya kembali dengan perbedaan waktu sebagai dasar penginderaannya. Perbedaan waktu antara gelombang suara dipancarkan dengan ditangkapnya kembali gelombang suara tersebut adalah berbanding lurus dengan jarak atau tinggi objek yang memantulkannya. Jenis objek yang dapat diindera di antaranya adalah: objek padat, cair, butiran maupun tekstil.

5. Sensor tekanan
Sensor tekanan - sensor ini memiliki transduser yang mengukur ketegangan kawat, di mana mengubah tegangan mekanis menjadi sinyal listrik. Dasar penginderaannya pada perubahan tahanan pengantar (transduser) yang berubah akibat perubahan panjang dan luas penampangnya.

6. Sensor kecepatan
Proses penginderaan sensor kecepatan merupakan proses kebalikan dari suatu motor, di mana suatu poros/object yang berputar pada suatui generator akan menghasilkan suatu tegangan yang sebanding dengan kecepatan putaran object. Kecepatan putar sering pula diukur dengan menggunakan sensor yang mengindera pulsa magnetis (induksi) yang timbul saat medan magnetis terjadi.

7. Sensor Penyandi (Encoder)
Sensor Penyandi (Encoder) digunakan untuk mengubah gerakan linear atau putaran menjadi sinyal digital, di mana sensor putaran memonitor gerakan putar dari suatu alat. Sensor ini biasanya terdiri dari 2 lapis jenis penyandi, yaitu; Pertama, Penyandi rotari tambahan (yang mentransmisikan jumlah tertentu dari pulsa untuk masing-masing putaran) yang akan membangkitkan gelombang kotak pada objek yang diputar. Kedua, Penyandi absolut (yang memperlengkapi kode binary tertentu untuk masing-masing posisi sudut) mempunyai cara kerja sang sama dengan perkecualian, lebih banyak atau lebih rapat pulsa gelombang kotak yang dihasilkan sehingga membentuk suatu pengkodean dalam susunan tertentu.

8. Sensor suhu

Terdapat 4 jenis utama sensor suhu yang umum digunakan, yaitu thermocouple (T/C), resistance temperature detector (RTD), termistor dan IC sensor. Thermocouple pada intinya terdiri dari sepasang transduser panas dan dingin yang disambungkan dan dilebur bersama, di mana terdapat perbedaan yang timbul antara sambungan tersebut dengan sambungan referensi yang berfungsi sebagai pembanding. Resistance Temperature Detector (RTD) memiliki prinsip dasar pada tahanan listrik dari logam yang bervariasi sebanding dengan suhu. Kesebandingan variasi ini adalah presisi dengan tingkat konsisten/kestabilan yang tinggi pada pendeteksian tahanan. Platina adalah bahan yang sering digunakan karena memiliki tahanan suhu, kelinearan, stabilitas dan reproduksibilitas. Termistor adalah resistor yang peka terhadap panas yang biasanya mempunyai koefisien suhu negatif, karena saat suhu meningkat maka tahanan menurun atau sebaliknya. Jenis ini sangat peka dengan perubahan tahan 5% per C sehingga mampu mendeteksi perubahan suhu yang kecil. Sedangkan IC Sensor adalah sensor suhu dengan rangkaian terpadu yang menggunakan chipsilikon untuk kelemahan penginderanya. Mempunyai konfigurasi output tegangan dan arus yang sangat linear.

PHB instalasi listrik




Ada teman saya yang awam tentang listrik biasa menyebutnya lemari kabel, ya namanya juga belum paham pasti pengetahuannya berdasarkan apa yang dilihat saja...
padahal bukan cuma kabel loh didalam PHB itu, jadi bagi yang masih belum paham semoga artikel ini bermanfaat buat teman-teman.
Panel Hubung Bagi

PHB...??? opo kuiiii PHB..?

,,langsung saja kita simak pembahasan dibawah ini:
PHB adalah panel hubung bagi / papan hubung bagi dapat dibedakan sebagai :
- Panel Utama  : Main Distribution Panel
- Panel Cabang : Sub Distribution Panel
- Panel Beban   : Sub-sub Distribution Panel
Di dalam panel biasanya busbar dibagi menjadi dua segmen yang saling  berhubungan dengan saklar pemisah, yang satu mendapat saluran masuk dari APP (pengusaha ketenagalistrikan) dan satunya lagi dari sumber listrik sendiri (genset). Busbar dalam PHB dibagi menjadi dua segmen dengan tujuan agar pada saat sumber listrik dari PLN mati akibat dari adanya gangguan atau sedang dalam pemeliharaan, maka suplai ke beban tidak akan ikut mati atau terganggu dengan adanya sumber listrik sendiri dari genset sebagai suplai cadangan.
untuk PHB sistem tegangan rendah, hantaran utamanya merupakan kabel feeder dan biasanya menggunakan NYFGBY.

Dalam PHB juga terdapat peralatan pengaman arus listrik sebagai penghubung dan pemutus yaitu terdiri dari :
- Circuit Breaker (CB)
MCB (Miniatur Circuit Breaker)
MCCB (Mold Case Circuit Breaker)
NFB (No Fuse Circuit Breaker)
ACB (Air Circuit Breaker)
OCB (Oil Circuit Breaker)
VCB (Vacuum Circuit Breaker)
SF6CB (Sulfur Circuit Breaker)
- Sekering dan pemisah
Switch dan Disconnecting Switch (DS)
Dibawah ini merupakan peralatan tambahan dalam PHB antara lain :
- Rele proteksi
- trafo tegangan, trafo arus
- alat-alat ukur besaran listrik : amperemeter, voltmeter, frekuensi meter, cosphi
meter
- lampu-lampu indikator
- dll
 contoh gambar pengkawatan PHB sederhana:
Gambar PHB panel hubung bagi

Menurut PUIL 2000 Perlengkapan Panel hubung bagi dan kendali (PHB) yaitu,
  1. Mengatur persyaratan meliputi pemasangan, sirkit, ruang pelayanan dan penandaan untuk semua perlengkapan yang termasuk katagori PHB, baik tertutup, terbuka, pasangan dalam, maupun pasangan luar.
  2. PHB adalah perlengkapan yang berfungsi untuk membagi tenaga listrik dan / atau mengendalikan dan melindungi sirkit dan pemanfaat listrik, mencakup sakelar pemutus tenaga, papan hubung bagi tegangan rendah dan sejenisnya.
  3. Terdiri atas 6 pasal antara lain : ruang lingkup, ketentuan umum, perlengkapan hubung bagi dan kendali tertutup, perlengkapan hubung bagi dan kendali terbuka, lemari hubung bagi, komponen yang di pasang pada perlengkapan hubung bagi dan kendali.

Sistem SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition)


SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) adalah sistem dari pengumpulan informasi, mentransfer kembali ke pusat kendali, melakukan analisis yang diperlukan dan kontrol, dan kemudian menampilkan data  pada sejumlah operator display. SCADA digunakan untuk memantau dan mengendalikan pabrik atau peralatan.

Telemetri biasanya dikaitkan dengan sistem SCADA. Ini adalah teknik yang digunakan dalam transmisi dan menerima informasi atau data melalui media. Informasi dapat berupa pengukuran, seperti tegangan, kecepatan atau aliran. Data-data tersebut dikirimkan ke lokasi lain melalui suatu media seperti kabel, telepon atau radio. Sebuah cara menangani tempat-tempat  yang berbeda yang tergabung dalam sistem.Data akuisisi mengacu pada metode yang digunakan untuk mengakses dan mengontrol informasi atau data dari peralatan yang dikendalikan dan dipantau. Data tersebut kemudian diakses diteruskan ke sistem telemetri siap untuk transfer ke tempat yang berbeda. Itu dapat berupa informasi analog dan digital yang dikumpulkan oleh sensor, seperti flowsensor, heatersensor, dll juga dapat untuk mengontrol peralatan seperti aktuator, relay, valve, motor, dll.
Sistem SCADA biasanya terdiri dari komponen dibawah ini:


  • HMI (Human-Machine Interface)
  • PLC (Programmable Logic Controller)
SCADA

Berikut penjelasan dari komponen Scada

1.Field Instrumentation
Field instrument mengacu pada sensor dan aktuator yang langsung dihubungkan ke pabrik atau peralatan. Mereka menghasilkan sinyal analog dan digital yang akan dipantau oleh Stasiun Remote. Sinyal juga dikondisikan untuk memastikan mereka yang kompatibel dengan input / output dari RTU (Remote Terminal Unit) atau PLC di Stasiun Jarak Jauh. Stasiun Remote dipasang di pabrik terpencil atau peralatan yang dipantau dan dikendalikan oleh komputer host pusat. Ini bisa jadi RTU atau Programmable Logic Controller (PLC). Jaringan Komunikasi adalah media untuk mentransfer informasi dari satu lokasi ke lokasi lain. Hal ini dapat melalui telepon, radio line atau kabel.

Central Monitoring Station  (CMS) mengacu pada lokasi master atau komputer host. Workstation beberapa dapat dikonfigurasi pada CMS, jika di perlukan. Menggunakan Human Machine Interface (HMI) program untuk memonitor berbagai data jenis yang diperlukan untuk operasi. Berikut ini adalah contoh konfigurasi dari sistem SCADA untuk distribusi air.

Field Instrument mengacu pada perangkat yang terhubung ke peralatan atau mesin yang dikontrol dan dipantau oleh sistem SCADA. Ini adalah sensor untuk memantau parameter tertentu, dan aktuator untuk mengendalikan modul tertentu dari sistem.
Instrumen ini mengkonversi parameter fisik (misalnya, aliran fluida, kecepatan, tingkat cairan, dll) ke sinyal listrik (misalnya, tegangan atau arus) dapat dibaca oleh peralatan Station Remote. Output dapat berada dalam analog (kisaran terus menerus) atau digital (nilai diskrit). Beberapa output standar industri analog  sensor ini adalah berkisar 0 sampai 5 volt, 0 sampai 10 volt, 4 sampai 20 mA dan 0 sampai 20 mA. Output tegangan digunakan ketika sensor dipasang di dekat pengendali (RTU atau PLC).

Aktuator digunakan untuk menghidupkan atau mematikan peralatan tertentu. Demikian juga, input digital dan analog yang digunakan untuk kontrol. Misalnya, digital input dapat digunakan untuk menghidupkan dan mematikan modul pada peralatan. Sementara input analog yang digunakan untuk mengontrol kecepatan motor atau posisi valve motorized.

2. Remote Station atau PLC
Field instrumen terhubung ke pabrik atau peralatan yang dipantau dan dikontrol yang dihubungkan ke Stasiun Remote untuk memungkinkan manipulasi proses pada lokasi yang jauh. Hal ini juga digunakan untuk mengumpulkan data dari peralatan dan mentransfernya ke sistem SCADA pusat. Stasiun remote baik mungkin berupa RTU (Remote Terminal Unit) atau PLC (Programmable Logic Controller).
RTU adalah sebuah komputer ruggedized dengan interfacing radio yang sangat baik. Hal ini digunakan dalam situasi di mana komunikasi yang lebih sulit. Salah satu kelemahan dari RTU adalah programmability yang kurang. Namun, RTU modern sekarang menawarkan programabilitas baik dibandingkan dengan PLC.
PLC (Programmable Logic Controller) digunakan dalam sistem SCADA karena programabilitas yang sangat baik. Sebelumnya PLC tidak memiliki port komunikasi serial untuk interfacing ke radio untuk mentransfer data.

Stasiun Remote biasanya tersedia dalam dua jenis, yaitu single board dan unit modular. Single board menyediakan sejumlah interface input / output (I / O) tetap. Hal ini lebih murah, tetapi tidak menawarkan  kemudahan upgrade ke sistem yang lebih canggih. Jenis modular merupakan remote station yang dapat diperluas dan lebih mahal daripada single board. Biasanya digunakan untuk menghubungkan modul. Setiap modul I / O atau komunikasi yang dibutuhkan untuk ekspansi di masa yang akan datang dapat dengan mudah di pasang.

3. Comunication Network
Jaringan Komunikasi mengacu pada peralatan komunikasi yang diperlukan untuk mentransfer data ke dan dari lokasi yang berbeda. Media yang digunakan dapat berupa kabel, telepon atau radio. Penggunaan kabel biasanya dilakukan di dalam  pabrik. Hal ini tidak praktis untuk sistem yang mencakup wilayah geografis yang luas karena biaya kabel tinggi, saluran dan tenaga kerja yang luas untuk menginstalnya.
Penggunaan saluran telepon (misalnya leased atau dial-up) merupakan solusi murah untuk sistem dengan cakupan yang besar. Leased line digunakan untuk sistem on-line yang membutuhkan koneksi dengan stasiun terpencil. Ini mahal karena satu saluran telepon akan dibutuhkan per lokasi. Selain lease line lebih mahal daripada saluran telepon biasa. Dial-up lines dapat digunakan pada sistem yang membutuhkan update secara berkala (misalnya, update per jam). Saluran telepon di sini biasa dapat digunakan. Host station dapat menghubungi nomor tertentu dari sebuah situs remote untuk mendapatkan pembacaan dan mengirim perintah. Situs remote biasanya tidak dapat diakses oleh saluran telepon. Penggunaan radio menawarkan solusi ekonomis. Modem radio digunakan untuk menghubungkan situs remote ke host. Sebuah operasi on-line juga dapat diterapkan pada sistem radio. Untuk lokasi di mana link radio langsung tidak dapat dibuat, repeater radio digunakan untuk menghubungkan lokasi lokasi tersebut.

4. CMS (Central Monitoring system)
Central Monitoring System  (CMS) adalah unit master dari sistem SCADA. Hal ini bertugas mengumpulkan informasi yang dikumpulkan oleh remote station dan menghasilkan tindakan yang diperlukan untuk setiap event terdeteksi.  CMS dapat memiliki konfigurasi komputer atau dapat jaringan untuk workstation untuk memungkinkan berbagi informasi dari sistem SCADA
Sebuah Program Human Machine Interface (HMI) akan berjalan pada komputer CMS. Sebuah alur diagram  dari seluruh plant atau proses dapat ditampilkan pada layar untuk identifikasi lebih mudah dengan sistem real. Setiap titik I / O dari unit remote dapat ditampilkan dengan representasi grafis yang sesuai dan pembacaan I / O. Pembacaan flow (aliran) dapat ditampilkan pada sebuah representasi grafis dari sebuah flowmeter. Satu bendungan dapat ditampilkan dengan isi cairan yang sesuai tergantung pada tingkat tangki yang sebenarnya.
Set-up parameter seperti nilai-nilai perjalanan, batas, dll dimasukkan pada program ini dan download ke unit remote yang sesuai untuk memperbarui parameter operasi mereka.
Program HMI juga dapat membuat window terpisah untuk alarm. Window alarm dapat menampilkan nama alarm tag, deskripsi, nilai, nilai titik perjalanan, waktu, tanggal dan informasi terkait lainnya. Semua alarm akan disimpan pada file terpisah untuk diperiksa nanti.

HMI (Human Machine Interface)

Human Machine Interface (HMI) adalah sistem yang menghubungkan antara manusia dan teknologi mesin. HMI dapat berupa pengendali dan visualisasi status baik dengan manual maupun melalui visualisasi komputer yang bersifat real time.
HMI

Sistem HMI biasanya bekerja secara online dan real time dengan membaca data yang dikirimkan melalui I/O port yang digunakan oleh sistem controller-nya. Port yang biasanya digunakan untuk controller dan akan dibaca oleh HMI antara lain adalah port com, port USB, port RS232 dan ada pula yang menggunakan port serial.
HMI mempunyai fungsi sebagai berikut :
  • Memonitor keadaan yang ada di plant.
  • Mengatur nilai pada parameter yang ada di plant.
  • Mengambil tindakan yang sesuai dengan keadaan yang terjadi.
  • Memunculkan tanda peringatan dengan menggunakan alarm jika terjadi sesuatu yang tidak normal.
  • Menampilkan pola data kejadian yang ada di plant baik secara real time maupun historical (Trending history atau real time).
HMI dalam industri manufacture berupa suatu tampilan GUI (Graphic User Interface) pada suatu tampilan layar computer yang akan dihadapi oleh operator mesin maupun pengguna yang membutuhkan data kerja mesin. HMI akan memberikan suatu gambaran kondisi mesin yang berupa peta mesin produksi dimana disitu dapat dilihat bagian mesin mana yang sedang bekerja. Pada HMI juga terdapat visualisasi pengendali mesin berupa tombol, slider dan sebagainya yang dapat difungsikan untuk mengontrol atau mengendalikan mesin sebagaimana mestinya. Selain itu dalam HMI juga ditampilkan alarm jika terjadi kondisi bahaya dalam sistem. Sebagai tambahan, HMI juga menampilkan data-data rangkuman kerja mesin termasuk secara grafik.

PENGERTIAN UMUM DAN FUNGSI RELAY

Pengertian Relay dan Fungsinya

electromagnetic


Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga dengan arus listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan Relay yang menggunakan Elektromagnet 5V dan 50 mA mampu menggerakan Armature Relay (yang berfungsi sebagai saklarnya) untuk menghantarkan listrik 220V 2A.

Gambar Bentuk dan Simbol Relay

Dibawah ini adalah gambar bentuk Relay dan Simbol Relay yang sering ditemukan di Rangkaian Elektronika.

relay

Prinsip Kerja Relay

Pada dasarnya, Relay prinsip kerjanya sama dengan kontaktor magnet, yang membedakan yaitu relay terdiri dari 4 komponen dasar  yaitu :
  1. Electromagnet (Coil)
  2. Armature
  3. Switch Contact Point (Saklar)
  4. Spring
Berikut ini merupakan gambar dari bagian-bagian Relay :
Kontak Poin (Contact Point) Relay terdiri dari 2 jenis yaitu :
  • Normally Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi CLOSE (tertutup)
  • Normally Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi OPEN (terbuka)
Berdasarkan gambar diatas, sebuah Besi (Iron Core) yang dililit oleh sebuah kumparan Coil yang berfungsi untuk mengendalikan Besi tersebut. Apabila Kumparan Coil diberikan arus listrik, maka akan timbul gaya Elektromagnet yang kemudian menarik Armature untuk berpindah dari Posisi sebelumnya (NC) ke posisi baru (NO) sehingga menjadi Saklar yang dapat menghantarkan arus listrik di posisi barunya (NO). Posisi dimana Armature tersebut berada sebelumnya (NC) akan menjadi OPEN atau tidak terhubung. Pada saat tidak dialiri arus listrik, Armature akan kembali lagi ke posisi Awal (NC). Coil yang digunakan oleh Relay untuk menarik Contact Poin ke Posisi Close pada umumnya hanya membutuhkan arus listrik yang relatif kecil.

Arti Pole dan Throw pada Relay

Karena Relay merupakan salah satu jenis dari Saklar, maka istilah Pole dan Throw yang dipakai dalam Saklar juga berlaku pada Relay. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai Istilah Pole and Throw :
  • Pole : Banyaknya Kontak (Contact) yang dimiliki oleh sebuah relay
  • Throw : Banyaknya kondisi yang dimiliki oleh sebuah Kontak (Contact)
Berdasarkan penggolongan jumlah Pole dan Throw-nya sebuah relay, maka relay dapat digolongkan menjadi :
  • Single Pole Single Throw (SPST) : Relay golongan ini memiliki 4 Terminal, 2 Terminal untuk Saklar dan 2 Terminalnya lagi untuk Coil.
  • Single Pole Double Throw (SPDT) : Relay golongan ini memiliki 5 Terminal, 3 Terminal untuk Saklar dan 2 Terminalnya lagi untuk Coil.
  • Double Pole Single Throw (DPST) : Relay golongan ini memiliki 6 Terminal, diantaranya 4 Terminal yang terdiri dari 2 Pasang Terminal Saklar sedangkan 2 Terminal lainnya untuk Coil. Relay DPST dapat dijadikan 2 Saklar yang dikendalikan oleh 1 Coil.
  • Double Pole Double Throw (DPDT) : Relay golongan ini memiliki Terminal sebanyak 8 Terminal, diantaranya 6 Terminal yang merupakan 2 pasang Relay SPDT yang dikendalikan oleh 1 (single) Coil. Sedangkan 2 Terminal lainnya untuk Coil.
Selain Golongan Relay diatas, terdapat juga Relay-relay yang Pole dan Throw-nya melebihi dari 2 (dua). Misalnya 3PDT (Triple Pole Double Throw) ataupun 4PDT (Four Pole Double Throw) dan lain sebagainya.
Untuk lebih jelas mengenai Penggolongan Relay berdasarkan Jumlah Pole dan Throw, silakan lihat gambar dibawah ini :

Fungsi-fungsi dan Aplikasi Relay

Beberapa fungsi Relay yang telah umum diaplikasikan kedalam peralatan Elektronika diantaranya adalah :
  1. Relay digunakan untuk menjalankan Fungsi Logika (Logic Function)
  2. Relay digunakan untuk memberikan Fungsi penundaan waktu (Time Delay Function)
  3. Relay digunakan untuk mengendalikan Sirkuit Tegangan tinggi dengan bantuan dari Signal Tegangan rendah.
  4. Ada juga Relay yang berfungsi untuk melindungi Motor ataupun komponen lainnya dari kelebihan Tegangan ataupun hubung singkat (Short).
  5. digunakan juga pada output PLC


TDR Time Delay Relay / Timer

TDR 
TDR

TDR (Time Delay Relay) sering disebut juga relay timer atau relay penunda batas waktu banyak digunakan dalam instalasi motor terutama instalasi yang membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis.

Peralatan kontrol ini dapat dikombinasikan dengan peralatan kontrol lain, contohnya dengan MC (
Magnetic Contactor), Thermal Over Load Relay, dan lain-lain.
Fungsi dari peralatan kontrol ini adalah sebagai pengatur waktu bagi peralatan yang dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk mengatur waktu hidup atau mati dari kontaktor atau untuk merubah sistem bintang ke segitiga dalam delay waktu tertentu.

Timer dapat dibedakan dari cara kerjanya yaitu timer yang bekerja menggunakan induksi motor dan menggunakan rangkaian elektronik.

Timer yang bekerja dengan prinsip induksi motor akan bekerja bila motor mendapat tegangan AC sehingga memutar gigi mekanis dan menarik serta menutup kontak secara mekanis dalam jangka waktu tertentu.

Sedangkan relay yang menggunakan prinsip elektronik, terdiri dari rangkaian R dan C yang dihubungkan seri atau paralel. Bila tegangan sinyal telah mengisi penuh kapasitor, maka relay akan terhubung. Lamanya waktu tunda diatur berdasarkan besarnya pengisian kapasitor.

Bagian input timer biasanya dinyatakan sebagai kumparan (Coil) dan bagian outputnya sebagai kontak NO atau NC.

Kumparan pada timer akan bekerja selama mendapat sumber arus. Apabila telah mencapai batas waktu yang diinginkan maka secara otomatis timer akan mengunci dan membuat kontak NO menjadi NC dan NC menjadi NO.
KONTAK TIMER

Pada umumnya timer memiliki 8 buah kaki yang 2 diantaranya merupakan kaki coil sebagai contoh pada gambar di atas adalah TDR type H3BA dengan 8 kaki yaitu kaki 2 dan 7 adalah kaki coil, sedangkan kaki yang lain akan berpasangan NO dan NC, kaki 1 akan NC dengan kaki 4 dan NO dengan kaki 3. Sedangkan kaki 8 akan NC dengan kaki 5 dan NO dengan kaki 6. Kaki kaki tersebut akan berbeda tergantung dari jenis relay timernya.


THERMAL OVERLOAD RELAY (TOR)

Thermal Overload Relay adalah alat yang biasanya digunakan untuk pengaman beban lebih pada motor, sebetulnya sama saja seperti halnya MCB yang dipasang di rumah. Pernah tidak saat asik nonton televisi, tiba-tiba saja listrik ngetrip atau bahasa kasarnya kalo didaerah saya njeglekk 😃, padahal tidak menyalakan apa-apa lagi? Hal itu disebabkan MCB sudah melewati arus yang diperbolehkan.

misal MCBnya 6 A. Bisa dipake 6.1 A dalam batas waktu sekian detik/menit. Lebih jelasnya anda bisa melihat tripping curve dari MCB tersebut.


Kembali ke Thermal Overload Relay (TOR) yang fungsinya kembar dengan MCB. Bedanya TOR tidak mempunyai switch on/off.
Thermal overload relay adalah peralatan switching yang peka terhadap suhu dan akan membuka atau menutup kontaktor pada saat suhu yang terjadi melebihi batas yang ditentukan atau peralatan kontrol listrik yang berfungsi untuk memutuskan jaringan listrik jika terjadi beban lebih.
tor
Motorlistrik akan mengalami gangguan arus listrik yang berlebihan diakibatkan oleh beberapa hal antara lain :

  • Tegangan pada motor listrik kurang dari tagangan Nominalnya,
  • Cos phi motor listrik yang buruk,
  • Beban yang diangkat oleh motor listrik terlalu berat/mengalami beban lebih/overload

Cara kerja

bentuk overload

Komponen utama sebuah Thermal overload relay iyalah Bimetal. logam bimetal terdiri dari dua buah kepingan logam. kepingan bimetal akan melengkung ketika terjadi perubahan suhu, Selama bimetal trip itu masih panas, maka dibagian bawah akan tetap melengkung, sehingga kontak – kontaknya belum dapat dikembalikan ke kondisi semula walaupun reset buttonnya ditekan, apabila bimetal sudah dingin barulah kontaknya dapat kembali lurus dan kontaknya baru dapat di hubungkan kembali dengan menekan reset button.


Pemasangan
kontaktor magnet dan TOR

biasanya terdapat pada output kontak utama pada kontaktor magnet, arus utama melalui 95 – 96 NO (Normally Open) dilanjutkan ke saklar yang mengatur jalannya kontaktor. Arus utama juga di lewatkan dari 95 – 97 karena jika terjadi masalah maka 97 – 98 yang tadinya NC (Normally Close) akan tertutup (NO). Akhirnya 98 dihubungkan dengan lampu indicator kuning yang dinyatakan trouble. Saat 97 – 98 menjadi terhubung maka 95 – 96 terbuka, menyebabkan kontakan kontaktor dan beban tidak mendapat tegangan karena motor mengalami beban lebih sehingga arus pada motor naik hingga bimetal pada TOR bekerja.

RANGKAIAN PENGENDALI MOTOR LISTRIK 3 FASA

,,Apa kabar kawan-kawan ngopi sekalian 😄😄..??
kali ini saya akan bercerita tentang apa sih rangkaian pengendali motor itu??

Rangkaian pengendali motor listrik 3 fasa yaitu rangkaian yang digunakan untuk menggerakkan atau menghidupkan motor listrik 3 fasa sesuai kehendak kita dengan suatu alat tertentu sebagai pengendalinya.
alat-alat umum yang biasa dipakai sebagai pengendali motor yaitu :

Dengan alat-alat tersebut dapat kita rangkai ke berbagai macam rangkaian sesuai kebutuhan kita seperti rangkaian manual,semi-auto,bahkan otomatis. 
Rangkaian pengendali motor biasa ditemui di industri-industri yang mengaplikasikannya sebagai penggerak suatu alat produksi. Rangkaian pengendali terdapat di dalam panel box yang berada tidak jauh dari alat yang digerakkannya karena agar lebih mudah dijangkau operatornya. 

Sebagai seorang engineer di bidang listrik tentunya harus paham betul tentang apa yang dikendalikan maka dari itu mereka harus mahir dalam membaca gambar rangkaian pengendali motor karena jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan bisa berakibat fatal, bayangkan saja jika suatu industri seluruh penggeraknya trouble pastinya mengalami kerugian besar karena tanpa adanya penggerak maka industri tidak bisa memproduksi suatu barang dengan maksimal. ''susahnya jadi engineer wkwk..😄''

  • Sebagai contoh rangkaian pengendali motor bekerja bergantian yang dioperasikn secara manual :
rangkaian pengendali motor bergantian
Rangkaian pengendali motor bergantian.
  • Dibawah ini adalah pengembangan dari rangkaian diatas bedanya hanya pada rangkaian utamanya dan motor listrik yang akan dikendalikan hanya satu tetapi bekerja secara dua arah putar.

forwad revers
Rangkaian pengendali motor dua arah putar.

Cara mengubah arah putaran motor listrik 3f  cukup mudah  yaitu hanya dengan cara menukar salah satu fasa dengan fasa lain maka putaran motor listrik akan berbalik arah, perhatikan rangkaian utama pada gambar diatas,
dalam rangkaian utama saya pasang dua kontakan kontaktor yang satu untuk arah maju (K1) dan yangt satunya lagi untuk arah mundur (K2).
,,Sekian dulu kawan-kawan, panggilan ngopi sudah berkumandang dan jangan lupa ikuti terus di artikel selanjutnya..


PROGRAMMING CONSOLE PLC OMRON

Membuat program PLC menggunakan kode mnemonic

A. Untuk membuat sebuag program PLC menggunakan Programming Console dapat diset ke 3 Mode/posisi PROGRAM, MONITOR, atau RUN yang dapat dilihat dari tampilan selector switch Programming Console :
Programming Console Omron

1. Mode PROGRAM digunakan untuk membuat program atau membuat modifikasi atau perbaikan ke program yang sudah ada. Pada mode ini kita dapat menuliskan program yang kita buat dan akan langsung disimpan di RAM oleh PLC. Kita juga dapat mengubah isi DM, memeriksa hubungan input dengan input device, memeriksa hubungan output dengan output device, dan lain-lain. Untuk posisi ini, kita perlu ekstra hati-hati sebab kesalahan operasional Programming Console dapat menyebabkan berubahnya program yang ada di dalam memori PLC.

2. Mode MONITOR digunakan untuk mengubah nilai setting dari counter dan timer ketika PLC sedang beroperasi. Pada mode ini kita dapat memonitoring program, kondisi/status output kontak, serta akan sangat membantu dalam pelacakan kesalahan sistem. 

3. Mode RUN Digunakan untuk mengoperasikan/menjalankan program yang telah kita buat tanpa dapat mengubah nilai setting timer dan counter. 

B. Mengetahui Letak dan Fungsi Tombol Keyboard pada Programming Console
Sebelum memasukkan program kedalam memory PLC, terlebih dahulu akan kita pelajari letak dan fungsi tombol-tombol Keyboard pada Programming Console. Adapun letak tombol-tombol keyboard pada Programming Console adalah seperti gambar di bawah ini :

Keyboard programming console
C. Fungsi tombol pada Programming Console
Berikut ini adalah fungsi dari masing-masing tombol yang ada pada keyboard Programming Console :
1.     FUN  : berfungsi untuk memilih fungsi tertentu. Tombol ini dipakai untuk intsruksi –
intsruksi  khusus. Intruksi khusus tersebut diprogram dengan menekntombol FUN dan tombol numerik yang sesuai.
2.    SFT    : untuk menuliskan instruksi SHIFT REGISTER.
3.    NOT   : untuk menuliskan instruksi NOT.
4.    AND   : untuk menuliskan instruksi AND.
5.    CNT   : untuk menuliskan instruksi COUNTER. COUNTER harus diisi dengan                                                  data (value).
6.    LD      : untuk menuliskan instruksi LOAD.
7.    OUT   : untuk menuliskan instruksi OUTPUT.
8.    TIM   : untuk menuliskan instruksi TIMER. TIMER harus diisi dengan                                                             data (value).
9.   TR      : untuk menuliskan instruksi memori rele sementara (temporary memory relay).
10.  LR       : untuk menuliskan instruksi rele penghubung (link relay).
11.  HR       : untuk menuliskan instruksi rele penahan (holding relay)
12.  DM      : untuk menuliskan instruksi data memory.
13.  CH       : memilih channel.
14.  CONT  : untuk mencari kontak pada ladder program (rung).

Operation key
Tombol –tombol ini digunakan untuk mengesekusi intruksi ladder yang telah ditulis dengan tombol command. Berikut ini adalah tombl-tombol operation key yang disediakan pada console PLC OMRON.

Numerical key
Tombol-tombol ini terdiri atas angka numerik dari 0 sampai dengan 9. Numerical key berguna untuk mengisi nomor alamat dari mnemonic-mnemonic pada ladder program.

CLR key
Tombol CLR berfungsi untuk menghapus tampilan pada display console. Tombol ini dipakai bersama dengan tombol MONTR.

D. Input Password pada Programming Console
PLC mempunyai sebuah password (kata kunci) kontrol untuk mencegah akses yang tidak diauthorisasi ke programnya. PLC selalu memprompt untuk memasukkan password ketika daya listrik pertama kali dihubungkan atau setelah programming console dipasang saat PLC beroperasi. Pada saat itu tampilan di Layar monitor (LCD Display) adalah sebagai berikut :

LCD programming console
Langkah selanjutnya adalah memasukkan input password dengan menekan tombol CLR dan MONTR.
password programming console
Display pada programming console selanjutnya adalah :

LCD Programming console

Disini menunjukkan bahwa password sudah terbuka dan siap untuk program PLC (step program) barulah kita dapat memasukkan kode mnemonic dan alamatnya. Yang harus kita perhatikan saat akan melakukan operasional pada programming console adalah dalam penulisan alamatnya karena jika kurang atau lebih dalam penomoran alamat maka PLC tidak akan membaca alamat yang kita berikan dan setiap kali kita selesai memindahkan posisi kunci pada programming console akan terlihat di layar LCD.

E.  Menulis Program
Saat menulis program, PLC harus dalam mode PROGRAM. Tekanlah tombol pada Programming Console sesuai dengan Kode Mnemonic Program yang telah dibuat lalu tekan tombol WRITE, agar tersimpan dalam RAM CPU-PLC, "ingat! perhatikan dalam penomoran alamat" Jika telah selesai memasukkan baris-baris instruksi program dan sampai pada akhir program, maka program harus diakhiri dengan instruksi END. Jika tombol END tidak ada, maka pada Programming console pasti ada tombol FUN. Untuk mengakhiri program, tekan tombol FUN kemudian tekan angka 01, maka pada layar yang tampil adalah END(01). Jadi Instruksi END adalah merupakan instruksi sebuah fungsi yaitu FUN (01), jika program sudah selesai, langsung saja pindah selector switch ke mode RUN untuk menjalankan PLC.

G. Menghapus Program
Menghapus program dapat dilakukan baik CLEAR ALL, yang akan menghapus seluruh isi program dengan HR, CNT, dan DM, ataupun sebagian dari program saja (mulai dari address tertentu ataupun HR/CNT/DM ada yang dipertahankan.

1. Menghapus Seluruh Isi Program
    Untuk menghapus semua isi program, dapat dilakukan dengan cara :
1.     Pindahkan Selector Mode ke posisi PROGRAM
2.     Tekan tombol CLR samapai terlihat 0000 yang ditampilkan pada programming console.
3.     Kemudian Memori PLC akan dihapus dengan menekan tombol berikut  CLR > SET > NOT > RESET > MONTR.
4.     Tampilan pada programming console akan seperti semula yaitu 0000 MEMORY CLR.
5.     Untuk memulai memasukkan program baru, tekanlah tombol CLR sampai tampilan menjadi pada LCD berubah menjadi NOP (00).

2. Menghapus Sebagian Program
    Untuk menghapus sebagian isi program, dapat dilakukan dengan cara :

1.     Pindahkan Selector Mode ke posisi PROGRAM
2.     Tekan tombol CLR samapai terlihat 0000 yang ditampilkan pada programming console
3.     Kemudian Memori PLC akan dihapus dengan menekan tombol CLR > SET > NOT > RESET.
4.     Tampilan pada programming console selanjutnya adalah sebagai berikut 0000 MEMORY  CLR.
5.     Misalnya ingin mempertahankan data pada HR, maka setelah tampilan di atas tekan tombol HR.
6.     Selanjutnya tekan tombol MONTR.
7.     Langkah terakhir adalah menekan tombol CLR.

4. Menghapus Baris Program
    Untuk menghapus satu baris program saja, dapat dilakukan dengan cara :
1.     Tampilkan dahulu pada layar programming console baris instruksi yang akan dihapus, misalnya OR 00005 pada alamat step program 00002.
2.     Setelah tampil dilayar, tekanlah tombol DEL pada keyboard programming console.
3.     Kemudian tekanlah tombol tanda panah ke atas
4.     Tampilan pada layar akan muncul pesan DELETE END, yang menunjukkan bahwa anda telah menghapus baris instruksi OR 00005 pada alamat step program 00002.
5.     Berikut ini adalah tombol-tombol yang termasuk ke dalam kelompok command key pada console PLC OMRON.